15 Jan 2014 (artikel untik Butik edisi ke 3)
Seorang
Bapak tiba-tiba masuk ke ruangan dengan setengah berteriak “Apa dia itu tidak
pernah berkaca dengan dirinya sendiri?
Bisanya kritik, sukanya mencela, tapi dia sendiri juga suka melakukan hal yang
sama!, saya tidak habis pikir!!”…. Pemandangan seperti ini mungkin juga pernah
kita jumpai di sekitar kita, di dalam keluarga, lingkungan kerja atau saat kita
hidup bertetangga. Mungkin kita
menjumpai ada orang dengan tipe tertentu yang acap kali suka melakukan
kritik-kritik tertentu yang parahnya dia sendiri juga sering melakukan hal yang
dikritik tersebut, atau jangan-jangan kita sendiri pernah melakukan hal seperti
itu? , mengapa hal tersebut bisa terjadi? Saya ingat ada sebuah teori yang
mungkin membantu memahami hal tersebut dan bisa juga membuat kita lebih
memahami diri sendiri dan meningkatkan kepedulian kita terhadap sesama dan
lingkungan.
Teori itu terkenal
dengan nama Johari Window atau Jendela Johari, mungkin beberapa rekan sudah ada
yang pernah mendengar dan mendapatkan teori ini. Teknik ini dikembangkan oleh 2
ahli Psikologi yaitu Joseph Luft dan Harry Ingham di tahun 1955 untuk membantu
memahami bagaimana hubungan diri dan lingkungannya. Tujuan dari Jendela Jauhari ini adalah untuk memperbaiki interaksi antar
manusia agar dapat saling mengenal, mengetahui dan memperkecil kemungkinan konflik,
dan teknik ini terkadang juga disinggung dalam ilmu komunikasi. Secara
sederhana teknik ini dapat digambarkan sebagai berikut :
|
|
OPEN
|
KUADRAN II
BLIND
|
||
HIDDEN
|
KUADRAN IV
UNKNOWN
|
1. Kuadran
I adalah area terbuka / Diri Terbuka (kita tahu, orang lain tahu)
Area ini adalah area bebas, pikiran ,perasaan, motivasi
diri kita juga diketahui oleh orang lain.
2. Kuadaran
II adalah Diri Buta (kita tidak tahu, orang lain tahu)
Seluruh hal mengenai diri kita yang orang lain tahu tapi kita
tidak tahu karena cenderung kita abaikan, contohnya bila kita tanpa sadar mempunyai
kebiasaan menggigit kuku bila kita
cemas.
3.
Kuadran III / Diri tersembunyi (Kita Tahu, orang
lain tidak tahu)
Perilaku atau perasaan yang diketahui oleh diri sendiri tapi
tidak diketahui oleh orang lain. merupakan segala sesuatu yang kita ketahui
tentang diri kita tetapi rahasia bagi orang lain, termasuk segala hal yang
tidak ingin kita tunjukan.
4.
Kuadran IV / Diri tak dikenali (Kita dan orang
lain tidak tahu)
Dirinya maupun orang lain tidak mengetahui tentang kebenaran
yang ada. Bisa jadi hal ini merupakan sesuatu hal yang ditekan ke alam bawah
sadar kita. Hal ini mungkin bisa diketahui dari berbagi sumber seperti hypnosis
atau mimpi.
Teori ini bisa dipakai dalam pergaulan kita sehari-hari atau
saat kita menilai orang lain. Jendela Johari tiap orang akan berbeda-beda.
Misalnya orang dengan kepribadian yang terbuka maka Jendela Joharinya akan
tampak seperti ini :
I
|
II
|
III
|
IV
|
Orang seperti ini akan
bersikap terbuka terhadap lingkungan di sekitarnya. Dia akan mudah untuk
menerima diri sendiri ataupun masukan dari lingkungannya. Responnya tulus dan
apa adanya terhadap orang lain.
Atau bisa juga jendela johari seseorang seperti ini:
I
|
II
|
III
|
IV
|
Orang seperti ini cukup terbuka terhadap orang lain, orang
lain juga cukup mengenalnya tetapi sebenarnya banyak hal dalam dirinya yang dia
rahasiakan ke orang lain. Orang lain sebenarnya belum betul-betul mengenal
dirinya. Sehingga bisa saja terjadi salah persepsi dari orang lain terhadap
dirinya. Dan masih banyak lagi contoh
model yang lainnya.
Saat kita berusaha memahami jendela seseorang,
jendela kita akan bergerak ke bawah atau ke kanan untuk menempatkan info ke
dalam jendela kita yang terbuka (kuadran I). Dengan menggunakan teknik ini diharapkan
kita dapat mengurangi area di kuadran 2 (yang berisi orang lain tahu tapi kita
tidak tahu karena sesuatu itu kita anggap tidak ada atau tidak kita perdulikan)
karena dengan mengurangi area blind kita diharap mampu memperbesar kuadran 1, meningkatkan
awareness (sadar diri/kepedulian) dan hubungan interpersonal. Namun ada
beberapa faktor yang menghambat seseorang dalam memperbaiki jendela dirinya
yaitu faktor eksternal seperti faktor lingkungan dan faktor internal atau faktor
dalam diri orang tersebut seperti keengganan untuk berubah dan faktor usia.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar