Senin, 16 Desember 2013

Bosan di sini

Tidak semua niat baik diterima baik pula...

hm.....
Dalam hidup...tidak pernah sedikitpun aku punya niat untuk sengaja melakukan kesalahan, menyakiti hati orang, melupakan sesuatu... berbuat curang, kejam, jahat, sombong....apapun itu..

tapi kenapa sering sekali terjadi miskomunikasi yang melibatkan diriku... akunya yang terlalu blak-blakan kah? aku nya yg ngomong kadang gak merhatiin sekitar atau perasaan seseorang kah atau memang aku memang tidak mengerti tata krama, sopan santun, perasaan hati orang?
serasa aku selama ini hidup sendiri dalam duniaku. aku sebenarnya ingin keluar dari dunia ku, dari lingkaran ku, tapi baru sebentar aku merasa nyaman untuk keluar dari lingkaran ku ada saja kejadian atau peristiwa yang akhirnya membuat aku menarik diri lagi dan kembali ke dalam dunia ku.. ke dalam lingkaran ku.. ke dalam zona ku...

aku rindu.. bisa menemukan seseorang yang dimana bersamanya aku bisa tanpa ragu menampilkan diriku yang apa adanya....
disini..... sulit sekali buat aku untuk menemukannya. saat dekat dengan seseorang yang ku anggap bisa ku jadikan 'sahabat' ...pasti ada saja kejadian yang akhirnya menjadikan aku menutup rapat lagi hati ku untuk berbagi bersama... suka..duka...
Hidup terasa membosankan tanpa 'sesuatu' yang hilang itu
dan kenapa hanya di tempat ini aku merasakan seperti itu??

sebelum-belumnya aku tidak pernah merasa kesulitan untuk mendapatkan teman yang sejalan, seorang yang dimana bersamanya aku bisa menampilkan diriku apa adanya.... saat dimana aku tidak perlu berpikir dulu sebelum bertindak, sebelum melangkah, sebelum berbicara.....
tapi kenapa disini terasa berbeda ??
aku yang berubah ? atau memang lingkungan yang tidak cocok dengan aku....

Pengen bisa dengan bebas ekspresiin marahku, kesalku, senangku
tapi semua tertahan ketika...aku dihadapkan pada perasaan seseorang ...





































Rabu, 09 Oktober 2013

KEPAHLAWANAN



Tema bulletin edisi ke 2 ini memang terasa menggetarkan hati yaitu tentang Kepahlawanan. Bukan pahlawan kesiangan atau sok jadi pahlawan tetapi pahlawan yang walaupun tidak bertempur di medan peperangan tetapi memiliki keikhlasan hati untuk menolong/membantu sesama dan lingkungan di sekitarnya tanpa pamrih.  Bagaimana Kepahlawanan menurut anda? Dari beberapa sumber yang saya peroleh ada beberapa definisi, ciri atau karakter dari seorang pahlawan menurut beberapa ahli berikut ini :
Menurut Project Imajinasi Heroic, sebuah organisasi non-profit yang bertujuan untuk mengajar orang menjadi pahlawan. Kepahlawanan melibatkan perilaku untuk tujuan moral, mereka mengidentifikasi empat elemen kunci kepahlawanan :
a.       Sukarela
b.       Dilakukan dalam pelayanan untuk orang/masyarakat yang membutuhkan
c.       Melibatkan beberapa jenis resiko, seperti : fisik, sosial, atau kualitas hidup
d.       Dilaksanakan tanpa perlu imbalan
Menurut Scott T.Allison & George R Goethals, 2011, seorang Pahlawan cenderung memiliki 8 sifat/ciri yaitu Cerdas, Kuat, Ulet, Tanpa pamrih, Peduli, Karismatik, Dapat diandalkan dan Inspiratif. Walaupun sulit bagi seorang pahlawan untuk memiliki semua 8 sifat karakteristik ini tapi kebanyakan dari sosok pahlawan memiliki mayoritas dari karakteristik tersebut. Lain lagi menurut Selwyn W Becker & Alice H Eagly, 2004, menurutnya Kepahlawanan terdiri dari tindakan yang dilakukan untuk membantu orang lain, meskipun kemungkinan menyebabkan si penolong mati atau cedera. Psikolog Frank Farley bahkan membuat perbedaan dengan the big H dan small h, “Big H Kepahlawanan” melibatkan resiko yang signifikan yang dapat mencakup kematian, luka, penjara atau konsekuensi serius/penting lainnya, sementara “small h kepahlawanan” adalah kepahlawanan sehari-hari, membantu orang lain, melakukan perbuatan baik, menunjukkan kebaikan, dll dimana tidak melibatkan konsekuensi besar. Secara keseluruhan dapat disimpulkan bahwa Kepahlawanan melibatkan suatu perbuatan baik yang dilakukan tanpa pamrih.

Berikutnya ada pertanyaan mengenai sifat kepahlawanan ini, apakah sifat kepahlawanan itu merupakan sifat dasar yang sudah ada sejak lahir ataukah sebuah sifat yang dapat dipelajari? Beberapa orang ada yang berpendapat bahwa manusia itu sejak lahir mempunyai bakat untuk menjadi baik (good person) atau menjadi buruk (bad person). Tapi saya lebih berpendapat bahwa kita semua lahir dengan kemampuan luar biasa untuk menjadi apapun. Walaupun berkembang dan dibentuk dalam keluarga atau budaya bahkan peristiwa/keadaan tertentu yang kurang menguntungkan seperti tumbuh dalam zona perang, kemiskinan atau cacat sejak lahir tapi semua orang mempunyai hak yang sama untuk menjadi apa yang dia inginkan. Sebagai contoh seorang motivator dunia Nick Vujicic yang lahir tanpa dua lengan dan dua kaki karena penyakit Tetra-amelia yang sangat langka. Ia hanya mempunyai telapak kaki kecil yang biasa disebut “my chicken drumstick” untuk membantunya melakukan banyak hal dalam hidupnya. Perjuangannya dan kasih sayang dari orang tua dan sahabatnya mampu membuatnya menjadi lebih bijaksana dan berani dalam menjalani hidup Kini Nick Vujicic merupakan motivator internasional yang sudah berkeliling ke lebih dari 24 negara dari empat benua (termasuk Indonesia) untuk memotivasi lebih dari 2 juta orang khusunya kaum muda.
Sifat kepahlawanan sebenarnya sudah ada dalam diri setiap manusia. Hanya ada yang peka merespon dan ada yang mengabaikan “suara halus” (kepahlawanan) itu. Sifat ini akan semakin tertanam kuat dalam diri seseorang bila sering diasah, dilakukan berulang-ulang sehingga lama kelamaan menjadi habit/ kebiasaan orang tersebut. Beberapa pemikiran orang awam pada awalnya menganggap sebelah mata dengan sifat luhur ini yang sekarang semakin tenggelam dalam dunia materialistik “kok mau sih dia melakukan hal tersebut? Padahal gak dibayar…padahal gak ada uangnya”….. seolah-olah uang atau materi mampu membayar kepuasan dan kesenangan batin seseorang saat melakukan kebaikan. Ada pula kisah-kisah yang terangkum dalam buku “Indonesia Mengajar” , kisah nyata tentang para guru muda yang rela meninggalkan kenyamanan kota, jauh dari keluarga dan memilih untuk mengajar di daerah terpencil / pedalaman. Mereka berusaha melunasi janji kemerdekaan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Tak sekadar mengajar baca tulis hitung, mereka juga mengajar banyak nilai-nilai kebaikan. Dalam hati seorang pahlawan semua hal yang dilakukan tidak bisa terbayarkan secara material duniawi, ada hal lain yang menjadi tujuan ia  melakukan hal tersebut, sesuatu yang dapat menimbulkan rasa puas, berarti untuk orang lain/sesamanya atau tujuan yang lebih mulia yang bisa merubah hidup orang banyak. Walau seorang pahlawan sebagai manusia biasa terkadang muncul rasa takut, dan merasa hilang harapan saat kesulitan datang tetapi seorang pahlawan sejati tidak akan mudah menyerah, selalu ada jalan untuk sebuah tujuan yang mulia. Seperti lagu yang didendangkan oleh Mariah Carey yang berjudul “Hero” , bahwa setiap dari kita sebenarnya mempunyai sisi kepahlawanan dalam jiwa kita, mungkin kita tidak menyadarinya bahwa ketika kita mampu bangkit dari masalah untuk terus melanjutkan hidup dan mengambil hikmah dari masalah dan kesulitan yang kita hadapi, paling tidak kita telah menjadi pahlawan untuk diri kita sendiri…. So let be a Hero….

PSIKOMETRI



09-09-2013

Ketika duduk di bangku kuliah terus terang saya kurang menyukai pelajaran Statistik atau mungkin hal itu disebabkan karena saya sudah parno duluan bila berhadapan dengan hitung-hitungan. Tetapi sekarang takdir justru membawa saya bekerja di BPS, instansi yang mengkhususkan diri dalam pelayanan akan data. Saya mencoba mencari hubungan antara statistik dan psikologi walaupun bila dilihat kedua ilmu tersebut saling bersebrangan, yang satu ilmu pasti dan yang satu ilmu sosial, dalam statistic 1+1=2, tapi dalam psikologi tidak begitu 1+1 bisa jadi 2 atau 3 atau 4, karena banyak hal yang mempengaruhi kebenaran sebuah jawaban, bisa dari diri sendiri(internal), dari lingkungan (eksternal), pola asuh dan sebagainya.  Akhirnya saya menemukan jawabannya, ketika berbincang-bincang dengan salah satu pejabat di BPS. Pejabat tersebut mengatakan bahwa statistik sebenarnya adalah tiang dari segala ilmu pengetahuan, kerena semua ilmu pengetahuan pasti melalui tahap pengukuran, pengumpulan data, pengujian secara empiris hingga terciptalah sebuah ilmu pengetahuan, dalam psikologi ternyata statistik  juga memiliki peranan yang sangat penting dan perpaduan keduanya menjadi sebuah ilmu yang dikenal dengan nama Psikometri.
Apa sih Psikometri itu? Ada yang berpendapat bahwa psikometri adalah ilmu yang terdiri dari 3 cabang ilmu yaitu Psikologi, Matematika dan Statistika. Menurut Furr dalam bukunya Psychometrics : psychometrics is the science concerned with evaluating the attributes of psychological test. Artinya psikometri adalah prosedur yang digunakan untuk menilai atribut – atribut sebuah tes psikologi. Psikometri merupakan ilmu spesifik dalam psikologi yang mengkhususkan pada masalah pengukuran aspek-aspek psikologis. Aspek psikologis manusia  ini “diukur” dengan cara-cara yang obyektif dan sistematis dengan menggunakan metode kuantitatif,  bisa dikatakan dalam psikometri merupakan penerapan metode statistika pada data tentang perilaku manusia.
Bagaimana psikis seseorang bisa diukur? Psikometri memancing respon/jawaban seseorang melalui stimulus-stimulus berupa pernyataan atau pertanyaan (item/soal) sehingga respon/jawaban dari orang tersebut dikuantifikasi atau diberi skor/nilai. Kemudian dari skor-skor yang diperoleh dilakukan analisis dengan teknik statistik/psikometrik tertentu sehingga hasilnya adalah penyimpulan akan karakteristik psikis yang sedang menjadi perhatian. Psikometri berupaya membuat alat ukur yang bisa dipercaya berlandaskan prinsip-prinsip psikometri itu sendiri yaitu validitas, reliabilitas, tidak bias, dan standarisasi. Sebuah alat tes dalam psikologi atau kerap disebut psikotes sebelum digunakan sudah pasti melalui  melalui tahapan-tahapan seperti validitas (mengukur apa yang diukur), Reliabilitas (konsistensi atau tidak berubah walaupun di teskan dalam situasi yang berubah, Tidak bias (jauh dari prasangka; obyektif) dan standarisasi (mempunyai standar-standar tertentu sesuai dengan kualifikasinya).  Berikut ini akan coba dijelaskan tentang prinsip-prinsip psikometri tersebut, yang digunakan dalam prinsip pembuatan alat tes :
1.       Validitas
Validitas disini dimaksudkan sejauh mana skor yang dihasilkan oleh sebuah tes terbukti mengukur apa yang ingin diukur.
Contoh : Untuk mengukur Intelegensi seseorang, maka sub-sub tes yang digunakan harus berkorelasi yang tinggi antara satu dengan yang lain agar hasil tes benar-benar menunjukkan intelegensi seseorang tersebut.
2.       Reliabilitas
Reliabilitas adalah ketepatan/kehandalan  dan kestabilan/keajegan dari hasil pengukuran tersebut. Ketepatan hasil pengukuran ditentukan oleh banyaknya informasi yang dihasilkan dan amat berkaitan dengan satuan ukuran dan jarak rentang (range) dari skala yang digunakan.
Syarat dari Keajegan itu sendiri dapat dibedakan menjadi 2 yaitu secara internal dan Eksternal. Secara internal yaitu tingkatan sejauhmana butir-butir soal sebuah tes itu homogen/sama, baik dari segi kesukaran maupun dalam bentuk soal/prosedur menjawab. Sedangkan eksternal adalah sejauhmana skor yang dihasilkan dari penyajian sebuah tes kepada sekelompok orang akan tetap sama sepanjang kemampuan orang-orang tersebut belum berubah. Ada 2 pendekatan dalam mengukur keajegan secara eksternal yaitu :
Pertama dengan melakukan tes berulang-ulang pada sekelompok orang dengan asumsi bahwa orang tersebut tidak berubah kemampuannya dan orang tersebut tidak akan mempelajari isi tes. Kedua sekelompok orang melakukan perangkat-perangkat tes yang banyak untuk menghindari bahwa orang tersebut sempat mempelajarinya.
Jika kedua pendekatan ini dilakukan dan hasilnya tetap sama maka alat tes tersebut memenuhi syarat keajegan secara ekternal.
3.       Tidak bias
Tidak ambigu, item nya tidak bermakna ganda, jadi kata-kata digunakan dalam item adalah tidak bermakna ganda/ambigu untuk menghindari Interpretasi yang bermacam-macam dari orang yang melakukan tes. Item bias adalah item-item yang berpotensi menimbulkan salah pengertian bagi si peserta tes. Misalnya pada tes kepribadian dengan soal-soal obyektif pernyataan langsung. Peserta diarahkan untuk memilih salah satu diantara 2 jawaban yang bisa jadi bukan merupakan pilihan mereka, contoh soal: pilih salah satu jawaban, saya bukan seorang pemurung atau saya seorang pekerja keras. Belum tentu orang yang memilih pilihan 2 benar-benar pekerja keras, bisa jadi karena ia kurang mendekati dengan pernyataan no.1
4.       Standarisasi
Sebuah alat tes harus memiliki standarisasi. Skor berdasarkan norma (kelompok) / standar alat tes adalah norma alat tes yang dibuat dengan membandingkan scoring hasil tes dengan skor standar kelompok yang dijadikan acuan. Jadi terlebih dahulu dilakukan tes pada sekelompok grup referensi dengan karakteristik tertentu. Kemudian hasil dari grup ini digunakan untuk mengembangkan sebuah sistem translasi raw score ke standard score. Setelah sistem ini terbangun, sistem scoring digunakan untuk membandingkan tampilan hasil skor peserta tes yang baru dengan grup referensi tersebut (referensi:friedenberg,Lisa.1995. Psychological Testing, design,analysis and use.USA:Allyn & Bacon)
        Dari paparan di atas masih bisa dimungkinkan terjadi kelemahan di salah satu alat tes yang digunakan. Untuk itu biasanya para psikolog menggunakan beberapa alat tes untuk meminimalisir kesalahan tersebut agar hasil yang diperoleh dapat dipertanggung jawabkan. Walau bebrapa kalangan kadang masih ada yang mencibir tentang sebuah alat tes tapi dalam realitanya penggunaan psikotes dalam perekrutan calon karyawan dan promosi masih merupakan alat yang diperhitungkan dari berbagai kalangan. Semoga dengan artikel ini mampu memberikan pengetahuan dan ilmu baru bagi yang membacanya. Hm..ternyata menarik juga juga ya pembahasan tentang psikometri ini, betapa ternyata ilmu yang saling berseberangan itu bisa “kawin” dan akhirnya menjadi ilmu baru yang bisa diterapkan.

Senin, 27 Mei 2013

Curhatku

28 Mei 2013

Berat banget rasanya kerja di sini Tuhan. Perasaan itu datang dan pergi apakah wajar perasaan seperti ini?
2 tahun sebenarnya bukan waktu yang singkat dalam proses perjalanan karir pekerjaan seseorang, tapi kenapa aku masih merasa tempatku bukan disini.
Aku merasa bahwa aku bisa melakukan lebih dari apa yang aku lakukan saat ini disini.
Aku merasa aku bisa lebih berdayaguna untuk lebih banyak orang. atau ini hanya perasaanku saja Tuhan? Disini hatiku benar-benar diuji. Bukan diuji berdasarkan bobot dan kualitas pekerjaan, tapi hatiku benar-benar diuji untuk menerima semua yang kualami setiap harinya sebagai proses darimu Tuhan. Sabar menghadapi segala sesuatu, tantangan terbesar adalah sabar dengan diriku sendiri. Hatiku sering sekali merasa tidak sabar dengan proses ini Tuhan, sampai dimana? sampai kapan?
Setiap saat aku meyakini..bahwa yang aku alami saat ini merupakan bagian dari rencanaMu untuk membuatku menjadi pribadi yang lebih baik, bagian dari rencanaMu untuk memberikan yang terbaik bagiku di MataMu.

Stay With Me God
Buat aku sabar dalam proses ini
I still and always belivein You
You're the One could understand me more than anything, everything
You know what the best for me
and I know You always around me


Minggu, 19 Mei 2013

Memory.....

8 Jan 2013

Ini yang aku alami beberapa bulan terakhir....
dan seperti kebiasaanku, aku selalu mencoba mengambil hal yang positif dari semua hal yang aku alami... apapun itu.

Bulan Nopember kemaren, rumahku kemalingan... aku kehilangan laptop ku, suamiku kehilangan camera digitalnya, dll. Laptop pertamaku yang ku beli dengan mencicil ke Bapakku.. aku ingat aku pinjam 5 juta, dan tiap bulannya aku angsur 500.000 kalo gak salah. dan setelah cicilan sudah lunas...laptop itu justru hilang diambil orang....hm...sedih juga, bukan sekedar laptopnya tapi lebih karena isi dan memori yang aku simpan di dalam laptop itu seperti foto,video..dan semua itu tidak tergantikan oleh uang khan?

Anggaplah ini adalah teguran dari Tuhan, bahwa jangan kita terlalu melekatkan diri pada hal-hal duniawai, yang ternyata bukan segala-galanya.
Pernah juga aku membenarkan sifat 'ego' ku dengan berkata "Tuhan...aku tidak pernah melihat sesuatu dari uang.. aku tidak pernah meminta yang terlalu muluk-muluk... bagiku memory adalah harta yang tidak bisa kita bayar...karna berapapun uang yang diberi tidak akan mampu membeli memory hidup kita, kita tidak mungkin bisa mengulang hal-hal di waktu sebelumnya... kita bukan nobita yang mempunyai robot canggih seperti doraemon yang punya pintu ajaib yang bisa membawa kita ke waktu sebelumnya.
Mungkin aku terlalu bangga pada diri ini...bangga pada apa yang ku pikir adalah milikku... barang-barang, anak-anak, semua yang ada padaku.....  Bukankah itu semua sebenarnya adalah bukan milikku

Jadi karena Tuhan begitu sayang padaku, Ia ingin mengingatkan ku bahwa tidak baik bila kita terlalu merasa 'semua' barang yang kita beli, anak-anak yang kita lahirkan... adalah milik kita.....
Sebenarnya kita tidak punya apa-apa.. Segala yang kita punya sebenarnya bukan punya kita. Semua milik Tuhan... Sang Pencipta

Andai manusia bisa memahami hal-hal seperti ini... rasa iri, korupsi, dan hal-hal negatif lain yang merugikan orang lain tidak akan terjadi....

Andai manusia bisa memahaminya.....

Que Sera,Sera


11 Mei 2013

Que Sera Sera (Whatever will be will be…Apapun yang akan terjadi..maka terjadilah..)

Pertama kali saya mendengar lagu ini pada sebuah iklan product semen di TV, awalnya saya gak terlalu ‘ngeh’ dan mencoba mengaitkan antara arti lagu dengan maksud ‘si penjual’ di iklan tersebut..ada hubungannya gak sih??.. Baru-baru ini saya mendengar kembali lagu ini di sebuah stasiun tv swasta dimana yang menyanyikannya adalah anak-anak cacat dari berbagai bangsa di sebuah pagelaran sekolah yang ditonton oleh orang tua masing-masing. Saya terdiam menyimak lirik demi lirik (yang kebetulan tertulis di bagian footernya) ……

When I was just a little girl
I asked my mother what will I be
Will I be pretty, will I be rich
Here’s what she said to me
Que sera, sera
Whatever will be, will be
The future’s not ours to see
Que sera, sera
Whatever will be, will be

Wow…maknanya dalem banget!! Karena tertarik  saya coba searching di ‘mbah google’….que sera sera… ada yang mengatakan ini adalah translate dari bahasa perancis dan ada pula yang mengatakan dari bahasa spanyol..apapun itu makna ketika di translate ke bahasa inggris artinya adalah.. Whatever will be will be.. bila diterjemahkan adalah apapun yang akan terjadi, terjadilah. Mungkin sebagian dari kita ketika masih anak-anak dan remaja pernah terlintas dalam pikiran kita “akan jadi apa saya nanti?” , “apa cita-cita saya akan tercapai?” , “apa nanti saya akan sukses dan kaya?” , “apa mimpi saya akan jadi kenyataan?”… sebenarnya impian tidak hanya untuk anak-anak atau remaja. Kita semua boleh punya mimpi, impian. Beberapa dari kita mungkin juga pesimis…” untuk apa bermimpi terlalu tinggi? Jalani saja yang ada karena semua sudah diatur” , atau “saya takut bermimpi karena takut kecewa”. Tidak ada yang salah dengan anggapan-anggapan tersebut. Semua orang punya pengalaman hidup masing-masing yang membuatnya memaknai hidup yang dijalaninya. 

Namun sebenarnya hidup yang kita jalani harus mempunyai tujuan. Tujuan tersebut akan membuat kita semangat menjalaninya. Mimpi sebenarnya adalah passion, baterai ketika semangat sudah mulai low, bukan sekedar impian kosong. Bangun mimpi yang baik dan memiliki manfaat, bila perlu manfaatnya bisa dirasakan juga oleh orang yang kita sayang, oleh orang lain yang membutuhkan. Mimpi yang jelas, bisa dilihat, bisa dirasakan, lalu buat perencanaan, step by step, tahap demi tahap bila perlu tentukan waktunya kapan mimpi tersebut bisa diraih, lalu ajak orang terdekat (seperti pasangan hidup, anak, orang tua, sahabat, dll) untuk mendukung kita dalam meraih mimpi tersebut, kemudian yakini dan ‘amini’ dengan do’a bahwa mimpi itu bisa diraih. Terus bekerja, berusaha dan berdoa. 

Bila ditengah jalan mimpi itu terasa semakin jauh dan sulit diraih, atau malah berbelok ke arah lain, jangan buru-buru menyerah. Pasti ada alasan kenapa kita diberi kesempatan oleh Tuhan untuk merasakan hal tersebut. Tuhan Maha Tahu yang tepat dan terbaik untuk kita sahabatNYa. 

Hidup adalah hidup yang harus tetap dijalani, tetaplah punya mimpi dan tujuan. Bila jatuh jangan biarkan sampai terjerembab, topang dengan mimpi dan tujuan yang ingin kita raih. 
Jadi walaupun kita tahu bahwa masa depan adalah misteri yang tidak kita tahu sebelum menjalaninya tetapi masa depan bukan untuk dikhawatirkan dan ditakuti. Tetap optimis, berpikir positif dan focus dengan apa yang sedang kita jalani saat ini. Bila tujuan kita jelas dan tujuan kita tersebut sudah diyakini dan dipasrahkan kepada Si Pemberi Hidup, maka Dia, diri kita dan alam semesta juga akan membantu.


“ The past is history, the future is a mystery, but today is a gift – that’s why they call it ‘the present”