09-09-2013
Ketika duduk di
bangku kuliah terus terang saya kurang menyukai pelajaran Statistik atau mungkin
hal itu disebabkan karena saya sudah parno duluan bila berhadapan dengan
hitung-hitungan. Tetapi sekarang takdir justru membawa saya bekerja di BPS,
instansi yang mengkhususkan diri dalam pelayanan akan data. Saya mencoba mencari
hubungan antara statistik dan psikologi walaupun bila dilihat kedua ilmu
tersebut saling bersebrangan, yang satu ilmu pasti dan yang satu ilmu sosial,
dalam statistic 1+1=2, tapi dalam psikologi tidak begitu 1+1 bisa jadi 2 atau 3
atau 4, karena banyak hal yang mempengaruhi kebenaran sebuah jawaban, bisa dari
diri sendiri(internal), dari lingkungan (eksternal), pola asuh dan sebagainya. Akhirnya saya menemukan jawabannya, ketika
berbincang-bincang dengan salah satu pejabat di BPS. Pejabat tersebut
mengatakan bahwa statistik sebenarnya adalah tiang dari segala ilmu
pengetahuan, kerena semua ilmu pengetahuan pasti melalui tahap pengukuran,
pengumpulan data, pengujian secara empiris hingga terciptalah sebuah ilmu
pengetahuan, dalam psikologi ternyata statistik
juga memiliki peranan yang sangat penting dan perpaduan keduanya menjadi
sebuah ilmu yang dikenal dengan nama Psikometri.
Apa sih Psikometri
itu? Ada yang berpendapat bahwa psikometri adalah ilmu yang terdiri dari 3
cabang ilmu yaitu Psikologi, Matematika dan Statistika. Menurut Furr dalam
bukunya Psychometrics : psychometrics is the science concerned with
evaluating the attributes of psychological test. Artinya psikometri adalah
prosedur yang digunakan untuk menilai atribut – atribut sebuah tes psikologi. Psikometri
merupakan ilmu spesifik dalam psikologi yang mengkhususkan pada masalah
pengukuran aspek-aspek psikologis. Aspek psikologis manusia ini “diukur” dengan cara-cara yang obyektif
dan sistematis dengan menggunakan metode kuantitatif, bisa dikatakan dalam psikometri merupakan
penerapan metode statistika pada data tentang perilaku manusia.
Bagaimana psikis
seseorang bisa diukur? Psikometri memancing respon/jawaban seseorang melalui
stimulus-stimulus berupa pernyataan atau pertanyaan (item/soal) sehingga
respon/jawaban dari orang tersebut dikuantifikasi atau diberi skor/nilai.
Kemudian dari skor-skor yang diperoleh dilakukan analisis dengan teknik statistik/psikometrik
tertentu sehingga hasilnya adalah penyimpulan akan karakteristik psikis yang
sedang menjadi perhatian. Psikometri berupaya membuat
alat ukur yang bisa dipercaya berlandaskan prinsip-prinsip
psikometri itu sendiri yaitu validitas, reliabilitas, tidak bias, dan
standarisasi. Sebuah alat tes dalam psikologi atau kerap disebut
psikotes sebelum digunakan sudah pasti melalui melalui tahapan-tahapan seperti validitas
(mengukur apa yang diukur), Reliabilitas (konsistensi atau tidak berubah
walaupun di teskan dalam situasi yang berubah, Tidak bias (jauh dari prasangka;
obyektif) dan standarisasi (mempunyai standar-standar tertentu sesuai dengan
kualifikasinya). Berikut ini akan coba
dijelaskan tentang prinsip-prinsip psikometri tersebut, yang digunakan dalam
prinsip pembuatan alat tes :
1.
Validitas
Validitas
disini dimaksudkan sejauh mana skor yang dihasilkan oleh sebuah tes terbukti
mengukur apa yang ingin diukur.
Contoh : Untuk mengukur Intelegensi seseorang, maka sub-sub tes
yang digunakan harus berkorelasi yang tinggi antara satu dengan yang lain agar
hasil tes benar-benar menunjukkan intelegensi seseorang tersebut.
2.
Reliabilitas
Reliabilitas adalah ketepatan/kehandalan dan kestabilan/keajegan dari hasil pengukuran
tersebut. Ketepatan hasil pengukuran ditentukan oleh banyaknya informasi yang
dihasilkan dan amat berkaitan dengan satuan ukuran dan jarak rentang (range)
dari skala yang digunakan.
Syarat dari Keajegan itu sendiri dapat dibedakan menjadi
2 yaitu secara internal dan Eksternal. Secara internal yaitu tingkatan
sejauhmana butir-butir soal sebuah tes itu homogen/sama, baik dari segi
kesukaran maupun dalam bentuk soal/prosedur menjawab. Sedangkan eksternal
adalah sejauhmana skor yang dihasilkan dari penyajian sebuah tes kepada
sekelompok orang akan tetap sama sepanjang kemampuan orang-orang tersebut belum
berubah. Ada 2 pendekatan dalam mengukur keajegan secara eksternal yaitu :
Pertama dengan
melakukan tes berulang-ulang pada sekelompok orang dengan asumsi bahwa orang
tersebut tidak berubah kemampuannya dan orang tersebut tidak akan mempelajari
isi tes. Kedua sekelompok orang
melakukan perangkat-perangkat tes yang banyak untuk menghindari bahwa orang
tersebut sempat mempelajarinya.
Jika kedua pendekatan ini dilakukan dan hasilnya tetap
sama maka alat tes tersebut memenuhi syarat keajegan secara ekternal.
3.
Tidak bias
Tidak ambigu, item nya tidak bermakna ganda, jadi
kata-kata digunakan dalam item adalah tidak bermakna ganda/ambigu untuk
menghindari Interpretasi yang bermacam-macam dari orang yang melakukan tes. Item
bias adalah item-item yang berpotensi menimbulkan salah pengertian bagi si
peserta tes. Misalnya pada tes kepribadian dengan soal-soal obyektif pernyataan
langsung. Peserta diarahkan untuk memilih salah satu diantara 2 jawaban yang
bisa jadi bukan merupakan pilihan mereka, contoh soal: pilih salah satu jawaban,
saya bukan seorang pemurung atau saya seorang pekerja keras. Belum tentu orang
yang memilih pilihan 2 benar-benar pekerja keras, bisa jadi karena ia kurang
mendekati dengan pernyataan no.1
4.
Standarisasi
Sebuah alat tes harus memiliki standarisasi. Skor
berdasarkan norma (kelompok) / standar alat tes adalah norma alat tes yang
dibuat dengan membandingkan scoring hasil tes dengan skor standar kelompok yang
dijadikan acuan. Jadi terlebih dahulu dilakukan tes pada sekelompok grup
referensi dengan karakteristik tertentu. Kemudian hasil dari grup ini digunakan
untuk mengembangkan sebuah sistem translasi raw score ke standard score.
Setelah sistem ini terbangun, sistem scoring digunakan untuk membandingkan
tampilan hasil skor peserta tes yang baru dengan grup referensi tersebut
(referensi:friedenberg,Lisa.1995. Psychological Testing, design,analysis and
use.USA:Allyn & Bacon)
Dari paparan di
atas masih bisa dimungkinkan terjadi kelemahan di salah satu alat tes yang
digunakan. Untuk itu biasanya para psikolog menggunakan beberapa alat tes untuk
meminimalisir kesalahan tersebut agar hasil yang diperoleh dapat dipertanggung
jawabkan. Walau bebrapa kalangan kadang masih ada yang mencibir tentang sebuah
alat tes tapi dalam realitanya penggunaan psikotes dalam perekrutan calon
karyawan dan promosi masih merupakan alat yang diperhitungkan dari berbagai
kalangan. Semoga dengan artikel ini mampu memberikan pengetahuan dan ilmu baru
bagi yang membacanya. Hm..ternyata menarik juga juga ya pembahasan tentang
psikometri ini, betapa ternyata ilmu yang saling berseberangan itu bisa “kawin”
dan akhirnya menjadi ilmu baru yang bisa diterapkan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar